The Ghost Writer (2010)
Nilai: A
Sutradara: Roman Polanski
Satu hal yang membuat Saya begitu antusias dengan The Ghost Writer: Saya adalah fan dari film thriller misteri Chinatown (1974) karya Polanski dan Saya selalu menjadi fan film sejenis. Maksudnya, film yang membeberkan misteri dari sudut pandang tokoh utamanya, walaupun di sini Ewan McGregor bukanlah detektif, tetapi ia tetap mengambil posisi detektif bersama penontonnya. Ini adalah cara storytelling yang sempurna untuk sebuah film thriller misteri, yang dipastikan bisa memberi memorable cinematic experience. Berdasarkan novel The Ghost karya Robert Harris, The Ghost Writer adalah sebuah kisah thriller politik dengan tokoh utama seorang penulis (McGregor) yang mendapat pekerjaan untuk menjadi sebuah penulis buku riwayat hidup seorang tokoh politik, mantan Perdana Menteri Inggris, Adam Lang (Pierce Brosnan), yang belakangan menuai kontroversi sebagai penjahat perang akibat konspirasinya berkaitan dengan Perang Irak. Misteri dibangun dengan petunjuk dari ghost sebelumnya yang baru saja tewas tenggelam, memiliki koneksi yang berkaitan dengan orang-orang di sekitar kehidupan Lang. The Ghost Writer memiliki kasus serius yang menarik dengan pengembangan plotnya yang membuat penonton menebak-nebak apa yang terjadi selanjutnya, tokoh-tokoh memorable yang diperankan dengan baik, tone visual dan scoring yang dingin, serta eksekusi kisah yang sangat manis. Luar biasa. Menegangkan dan menghibur. Salah satu film terbaik tahun ini.
Date Night (2010)
Nilai: B
Sutradara: Shawn Levy
Dalam film action-romantic-screwball comedy ini, dua bintang TV top, Steve Carrell dan Tina Fey, berperan sebagai Phil dan Claire Foster, pasangan suami istri membosankan asal New York yang pada suatu malam kencan, kesalahan pahaman tentang pencurian flashdrive membuat mereka harus berhadapan dengan mafia. Itu adalah pengalaman unik yang tidak terlupakan bagi mereka, sekaligus pengalaman menontonyang cukup lucu dan menghibur bagi kita, penonton. Steve Carrell dan Tina Fey adalah kunci dari atmosfir humor film ini. Kalaupun humor-humor di film ini terasa kering, paling tidak Carrell dan Fey membawakannya secara lepas sehingga tetap saja kelihatan menyenangkan. Yang menarik di sini adalah pengembangan plot yang unik, di sepanjang penyelidikannya, pasangan Foster bertemu beberapa pasangan sebagai refleksi kehidupan rumah tangga mereka (diperankan banyak cameo), dan seorang ahli senjata berotot yang tidak pernah memakai baju (Mark Wahlberg). Tentu sangat menyenangkan sekali menghabiskan waktu di bioskop untuk melihat kolaborasi Carrell-Fey yangs sangat komikal dan menghibur dalam satu layar.
Ip Man 2 (2010)
Nilai: B+
Sutradara: Wilson Yip
Sayang sekali Saya belum sempat menonton film pertamanya. Ip Man 2 adalah kelanjutan kisah semi biografi grandmaster Ip Man (Donnie Yen) yang sekarang dikisahkan melakukan migrasi ke Hong Kong bersama keluarganya, dan membuka sekolah seni bela diri Wing Chun. Diceritakan dari pemuda bernama Wong Leung (Huang Xiaoming) yang akan menjadi salah satu muridnya sampai konflik antar sekolah seni bela diri. Ip Man 2 memiliki banyak adegan perkelahian yang sangat menarik dan menghibur dengan koreografi yang cantik-credit khusus untuk Sammo Hung sebagai koreografernya. Saya perhatikan sering penonton secara spontan berdecak kagum melihat indahnya gaya bertarung yang ditampilkan. Di sini ada beberapa sequence yang mempertemukan berbagai gaya dari seni bela diri cina. Walau di sini kita tahu kalau masih belum bisa melihat Bruce Lee dewasa, Saya merasa Xiaoming (entah disengaja atau tidak) merefleksikan akting dari Bruce Lee itu sendiri. Untuk semua fans film kung fu, seri Ip Man adalah film wajib khususnya di era sinema modern Hong Kong.
Iron Man 2 (2010)
Nilai: D
Sutradara: Jon Favreau
Iron Man pertama tidak hanya film yang menghibur, tetapi juga film yang memiliki kualitas. Saya cinta itu. Sayang sekali Iron Man 2 hanya mengulang kembali film pertamanya-seolah-olah film ini hanya menjual sosok War Machine saja, dan anehnya justru menghilangkan poin-poin yang membuat Iron Man pertama banyak menuai pujian. Kali ini, superhero narsis Tony Stark (Robert Downey Jr.) harus berhadapan dengan pesaing bisnisnya di bidang persenjataan, Justin Hammer (Sam Rockwell), yang bekerja sama dengan fisikawan asal Rusia, Ivan Vanko (Mickey Rourke) yang belakangan menjadi Whiplash. Salahkan naskahnya yang ditulis oleh aktor-menjadi-penulis naskah debutan Justin Theroux. Plotnya datar dan sama sekali tidak memiliki pondasi yang kokoh. Ditambah dengan diselipkannya banyak sub plot kurang penting yang dipanjang-panjangkan, membuat cerita filmnya tampak ditulis ngawur. Ada yang ingat panjangnya sequence Grand Prix (terlihat di trailernya) yang dijaga oleh satpam-satpam yang lebih memilih mengamankan penonton daripada menolong Tony yang siap dibantai di tengah arena? Atau ulang tahun Stark? Theroux terlalu menggampangkan semuanya sampai mematikan logika film ini sendiri. Di film pertamanya, karakter Tony dibuat justru lebih menarik daripada Iron Man itu sendiri, namun di sini sama sekali tidak terlihat ada perkembangan yang menarik dari Tony. Dan sang antagonis, Hammer…siapa Dia lagi? Oh, hanya pesaing bisnisnya. Dan pameran CGI, yea, pertempuran robot-robot yang sangat panjang di akhir film dengan eksekusi secepat kilat. Sangat membosankan dan tidak ada yang menarik untuk disaksikan lagi.
Clash of the Titans (2010)
Nilai: B-
Sutradara: Louis Leterrier
Remake dari film tahun 1981 yang berjudul sama. Clash of the Titans adalah re-imagine dari kisah manusia setengah dewa, Perseus (Sam Worthington). Diceritakan ayah kandung Perseus, Zeus (Liam Neeson), murka karena manusia-manusia yang ia ciptakan kini menantangnya. Ia mendengarkan saran adiknya, Hades (Ralph Fiennes) untuk melepas monster laut Kraken yang akan menghancurkan kota Argos atau kurban berupa putri Andromeda (Alexa Davalos) sebagai gantinya. Apa yang tidak Saya suka dari film aslinya, sudah diperbaiki di versi remakenya. Petualangan Perseus dengan fellowshipnya sudah jauh tampak serius dan meyakinkan. Dan akhirnya si burung hantu robot Bubo hanya tampil sebagai cameo di sini. Tentu di sini terlihat kalau film ini banyak memiliki perubahan dari versi aslinya. Personil fellowship yang lebih berperan termasuk love interest yang diganti menjadi wanita awet muda, Io (Gemma Artherton) dan lain-lain. Arti Clash di sini berhubungan dengan politik para Titans di Olympus. Sejujurnya, untuk latar belakang konfliknya, kali ini Saya lebih suka jika mereka memakai plot aslinya. Persamaannya tentu kedua film ini sama-sama pamer efek visual-dimana ada kemajuan pesat dalam bidang teknologi selama hampir 30 tahun. Dan lihat adegan Medusa yang sekarang cantik dan semakin berbahaya. Standar tapi menghibur, Saya lebih versi ini dibanding pendahulunya.
Clash of the Titans (1981)
Nilai: C+
Sutradara: Desmond Davis
Ini adalah salah satu film paling terkenal dari produser/ahli efek visual stop motion Ray Harryhausen yang tahun ini. Temanya sangat menarik, mengisahkan ulang cerita seorang manusia setengah dewa, Perseus (Harry Hamlin), yang terkenal dilukiskan sedang mengangkat kepala Medusa. Ya, Perseus akan menghadapi Medusa berwajah mengerikan (itu menjadi salah satu sequence yang sangat memorable sampai sekarang) untuk menyelamatkan seorang putri, Andromeda (Judi Bowker), yang akan dijadikan kurban untuk raksasa laut Kraken. Akan ada banyak sekali makhluk mitologi yang dipamerkan dengan efek stop motion yang terkadang terlalu berlebihan. Satu hal di film ini yang Saya suka adalah kondisi dewa-dewa di Olympus benar-benar “clash”. Semua dewa terlihat egois terutama pertikaian antara Zeus (Laurence Olivier)-yang merupakan ayah kandung Perseus-, dengan Thetis (Maggie Smith). Di sisi lain, Saya selalu merasa film ini dibuat terlalu konyol, kekanak-kanakan (tetapi mempunyai pemandangan payudara dan pantat wanita) dengan banyak lemparan humor kering bagi sebagian penonton dewasa dan bagian terburuknya adalah penampilan seekor robot burung hantu (robot di jaman itu!?) bernama Bubo. Sebagai penonton yang sekarang sudah bertambah dewasa, Saya sekarang kurang bisa menikmati film ini lagi. Film ini dibuat ulang untuk rilis tahun 2010.
How to Train Your Dragon (2010)
Nilai: A
Sutradara: Dean DeBlois & Chris Sanders
Dengan mudah Saya bisa mengatakan kalau How to Train Your Dragon adalah film terbaik yang pernah diproduksi oleh Dreamworks Animation. Saya yang tidak pernah menjadi fans animasi-animasi dreamworks yang biasanya tumpul dan terlalu kekanak-kanakan, tapi sekarang merasa cukup terkejut dengan kisah film ini yang sangat menyentuh hati tanpa perlu mahal-mahal mengeluarkan biaya lebih untuk versi 3D nya. Dreamworks seperti sudah belajar mengapa animasi Pixar begitu dicintai sampai saat ini. Ceritanya sangat sederhana. Tentang remaja bernama Hiccup (Jay Baruchel), satu-satunya personil bangsa Viking yang tidak punya nyali dan kemampuan untuk membunuh naga. Sampai akhirnya ia bersahabat dengan seekor naga jenis misterius Nightfury yang dinamainya Toothless (Ompong). How to Train Your Dragon memiliki semua yang diharapkan dari sebuah film animasi. Ia memiliki cerita yang menarik tentang keluarga dan persahabatan dengan hewan. Adegan aksi yang sangat menghibur dan memanjakan mata. Serta hubungan antar Hiccup dan si Ompong yang sangat hangat, tentunya menyentuh penonton di semua umur dan khususnya anak-anak akan bermimpi memiliki seekor naga sebagai hewan peliharaan.
True Legend (2010)
Nilai: B
Sutradara: Yuen Woo Ping
True Legend atau dengan judul aslinya Su Qi-Er menceritakankan tentang kisah hidup ahli silat legendaris, Su Can (Chiu Man-Cheuk), sang penemu jurus tinju mabuk. Untuk semua fans film kung fu, True Legend adalah sebuah film wajib. Di sini koreografer silat Yuen Woo Ping langsung turun tangan menjadi sutradara. Ya, akan ada banyak adegan silat dengan koreografi yang breath-taking dengan tingkat kekerasan yang dieksploitasi. Akan ada juga sequence silat yang melibatkan setting CGI dan Jay Chou memakai wig putih. Film ini juga mendapat dukungan dari tokoh film silat legendaris seperti Gordon Liu sebagai sosok tokoh yang sudah lama hilang dari arena film silat jaman sekarang. Walaupun Saya masih sedikit sensitif dengan unsur fantasi film ini, tetapi beberapa poin film ini menjawab kerinduan Saya terhadap film silat jaman dulu. Untuk semua fans film kung fu, True Legend adalah sebuah film yang patut dicoba, dan ambil kesempatan melihat penampilan terakhir yang pendek dan memorable dari (alm.) David Carradine.
Hachiko: A Dog’s Story (2009)
Nilai: B-
Sutradara: Lasse Hallstrom
Semoga ini bukan spoiler, Saya pikir semua orang sudah tahu kisah anjing Akita legendaris asal jepang, Hachiko, yang sampai akhir hayatnya setia menunggu majikannya yang sudah meninggal di stasiun kereta api Shibuya-dan patung sang anjing sekarang berdiri di stasiun itu. Sebelumnya sempat difilmkan oleh jepang dan menjadi hits di negaranya, berjudul Hachikô monogatari (1987). Dan ini adalah versi bulenya dengan Richard Gere sebagai sang professor. Perlu diakui, ini adalah film tear jerker yang sangat efektif-Anda tidak perlu menjadi penyayang anjing untuk ikut berbagi air mata. Akhir cerita yang mengharukan-Saya menonton film ini di bioskop, ketika lampu dinyalakan kembali, Saya melihat banyak penonton wanita menangis. Tokoh Professor Parker (diperankan dengan baik oleh Gere) terutama Hachi sendiri adalah tokoh-tokoh yang sangat loveable dan mereka memiliki chemistry yang pas. Kisahnya sendiri sangatlah hangat, penuh kasih dan cocok untuk semua keluarga. Masalahnya adalah, apakah kisah itu tetap menarik saat dituturkan menjadi sebuah film panjang? Ini jelas contoh adaptasi cerita yang memang sangat sulit untuk dilakukan, dan akhirnya Saya sempat merasa bosan di pertengahan film. Karena ini adalah cerita mengenai penantian. Sejak Hachiko menanti di stasiun sampai film selesai, akan ada banyak sekali repetisi sequence. Sub plot yang variatif memang sudah ditambahkan, tetapi tetap kurang menarik. (25 maret 2010)
“And You Call Me Coloured?”
This poem was nominated by UN as the best poem of 2006, written by an African Kid.
When I born, I black..
When I grow up, I black..
When I go in Sun, I black..
When I scared, I black..
When I sick, I black..
And when I die, I still black…
And you white fellow..
When you born, you pink..
When you grow up, you white..
When you go in sun, you red..
When you cold, you blue..
When you scared, you yellow..
When you sick, you green..
And when you die, you gray…
And you calling me coloured?Nah buds, how you feel?
Shutter Island (2010)
Nilai: A-
Sutradara: Martin Scorsese
Mungkin ini bukanlah tipe film yang diharapkan penonton dari Martin Scorsese. Ini juga bukanlah film tipe oscar-yang Saya yakini adalah alasan mengapa jadwal akhir tahun bisa dimundurkan menjadi februari. Shutter Island adalah film misteri thriller seperti film-film Hitchcock. Berdasarkan novel karya Dennis Lehane (Mystic River, Gone Baby Gone), Shutter Island bercerita mengenai US marshal, Teddy Daniels (Leonardo DiCaprio), dan mitranya, Chuck Aule (Mark Ruffalo), yang melakukan investigasi terhadap kasus hilangnya salah seorang pasien wanita di Rumah Sakit Jiwa Ashecliff di pulau terpencil Shutter Island. Sekilas, penonton manapun pasti sudah bisa menebak twist terbesar film ini sebelum lima menit pertama. Film ini tidak hanya mengenai bagian klise itu. Tapi ada juga beberapa twist yang mungkin terlewatkan pada first viewing ditambah ending yang tricky. Penuturannya lah yang lebih istimewa. Bagaimana misteri semakin dibuka lantas diburamkan dan realita diparalelkan dengan memori pernikahan, Nazi sampai perang dingin (Saya mencoba untuk menghindari spoiler). Dan Shutter Island adalah sebuah thriller yang efektif dengan cerita yang mencekam, adegan dan kata-kata yang menjijikkan. Film ini memiliki atmosfir klasik yang kental. Musik di filmnya terdengar seperti film-film misteri thriller era 40an, dan visualnya sangat cantik dalam konteks yang kelam-menyerupai film noir kuno lengkap dengan hujan, petir, rokok, penggunaan layar hijau-dan gaya naratif. Dan tentu saja, Saya pikir bahwa perlu menonton Shutter Island lebih dari satu kali untuk mencerna lebih dalam lagi tentang isi filmnya. (23 maret 2010-revisi 24 maret 2010)
The Twilight Saga: New Moon (2009)
Nilai: C+
Sutradara: Chris Weitz
Jika seseorang bukan pemuja Twilight Saga dan ketampanan vampir berkulit putih pucat Edward Cullen (Robert Pattinson), maka orang itu pasti di kubu yang sentimen karena hypenya. Saya akui kualitas cerita Twilight dan New Moon memang seperti opera sabun dan fokusnya tanggung dimana-mana, tapi Saya tidak bisa bohong kalau ternyata secara aneh Saya bisa menikmati kedua film itu lengkap dengan unsur cheesy nya sebagai guilty pleasure. Benar-benar cheesy-itu hanya rahasia gadis-gadis Cullen yang sampai bisa histeris di gedung bioskop mendengar one liner Cullen sebagai penutup New Moon. Dalam New Moon, manusia serigala berbadan kekar Jacob Black (Taylor Lauter-dengan gaya rambut yang sudah gaul), akan membuka baju untuk membuat penonton gadis bersorak dan menjadi orang ketiga ketika Edward menghilang meninggalkan Bella Swan (Kristen Stewart) sendirian. Sebenarnya ada topik lain dalam New Moon selain cinta segitiga itu, namun Saya memilih untuk tidak membocorkannya. Dengan cerita yang lebih memaksa dari prekuelnya, eksploitasi fisik sempurna aktor aktrisnya yang tiada henti, dan New Moon tetap seperti drama remaja feminin sekalipun sutradara wanita Catherine Hardwicke yang menyutradari Twilight, sudah digantikan oleh Chris Weitz. Paling tidak film ini mengajarkan kalau jangan sampai urusan cinta mengganggu urusan sekolah. Trio Stewart-Pattinson-Lautner sudah menjadi idola remaja, pendapatan New Moon sudah laris manis, dan sebuah sekuel untuk season selanjutnya, The Twilight Saga: Eclipse, siap dirilis pertengahan tahun ini. (17 maret 2010)
2012 (2009)
Nilai: D
Sutradara: Roland Emmerich
Emmerich kembali membuat film kiamat yang bagaikan sekuel untuk film pemanasan global-nya dulu, The Day After Tomorrow. Pertama, tentu apa yang ditampilkan dalam film ini membayar tuntas setiap rupiah harga tiketnya-kota LA yang tenggelam, jalanan yang terbelah sampai ke lahar, pegunungan Himalaya yang dihantam ombak, dll. Dengan kondisi: Anda adalah penonton yang siap dibodohi Emmerich dan hanya mengharapkan adegan animasi bencana itu. Visual efeknya memang dashyat sekali. Apa benar 21 desember 2012 nanti akan seperti yang digambarkan di filmnya? Tidak tahu. Siapa peduli? Ini adalah cerita fiksi, Emmerich bebas menghancurkan bangunan apa saja yang ia inginkan. Yang penting adalah visual effectnya memuaskan. Tapi ceritanya? Staff pemerintahan Adrian Helmsley (Chiwetel Ejiofor), mengetahui gejala kiamat akibat aktivitas matahari dan tenaga tektonik. Seorang penulis fiksi ilmiah, Jackson Curtis (John Cusack), mengajak mantan istrinya,Kate (Amanda Peet), anak-anak mereka, dan pacar Kate sekarang, untuk mencari kapal-kapal raksasa milik amerika yang disiapkan sebagai Noah’s Ark modern. Emmerich sama sekali tidak ingin belajar, dan tetap mengulangi kesalahan yang sama yang dia lakukan pada The Day After Tomorrow. Dia suka membuat ketegangan murahan. Untuk sebagian penonton (tipe di atas), itu sangat fun. Bagi Saya, itu menjengkelkan. Seperti biasa, akan ada bagian dimana si tokoh utama sebenarnya adalah si pembuat onar, namun ia berhasil meraih simpati orang-orang. Maksud Saya: Siapa gerangan Jackson ini? Anak indigo? Bukan. Nabi? Bukan. Situasi yang tidak logis itu dipaksakan untuk masuk semata-mata demi slogan mentah tentang kemanusiaan. Itu sangat menganggu kenyamanan saat menonton. Terakhir mengenai kontroversi film ini yang dianggap musyrik bagi beberapa lembaga agama di Indonesia, jangan percaya mereka yang bahkan mungkin belum menyaksikan secara langsung film ini. 2012 adalah film yang harmless. Murni hiburan. (17 maret 2010)
The Imaginarium of Dr. Parnassus (2009)
Nilai: B
Sutradara: Terry Gilliam
Hal pertama yang perlu diketahui di sini adalah Terry Gilliam sedang membuat film fantasi. The Imaginarium of Dr. Parnassus adalah sebuah fantasi yang psychedelic. Kedua, ini adalah film paling terakhir milik (alm.) Heath Ledger yang hanya sempat menyelesaikan syuting untuk adegan-adegan di London. Ceritanya mengenai grup pertunjukan keliling pimpinan Dr. Parnassus (Christopher Plummer), yang tiba-tiba menemukan seseorang yang tergantung di bawah jembatan, Tony (Heath Ledger), yang selanjutkan akan bergabung bersama mereka untuk membantu memenuhi kesepakatan yang pernah dilakukan Dr. Parnassus dengan seorang Setan, Mr. Nick (Tom Waits), tentang penyerahan anak perempuan sang dokter, Valentina (Lily Cole), saat ia berumur 16 tahun. Cermin ajaib milik Dr. Parnassus memiliki efek imajinasi yang edan seperti saat memakai narkoba. Itu seperti sebuah dunia parallel-yang semuanya divisualisasikan dengan CGI. Cermin tersebut adalah alasan paling logis bagi Gilliam untuk menaruh semua imajinasinya yang ganjil dengan desain megahnya. Untuk tokoh imaginarium Tony sendiri dilanjutkan oleh tiga aktor: Johnny Depp, Jude Law, dan Colin Farrell. Saya sangat suka dengan sequence-sequence fantasi aneh dan cantik dari kepala Gilliam untuk film ini. Masalahnya sekarang adalah bahwa ternyata Saya tidak terlalu menyukai plot film ini sendiri. (17 maret 2010)
Green Zone (2010)
Nilai: A-
Sutradara: Paul Greengrass
Matt Damon dan Greengrass adalah dua kolaborator dari dua film Bourne terakhir. Anda pasti tahu gaya visual Green Zone akan menggunakan kamera handheld yang shaky dengan editing yang ketat dari banyak shot pendek. Sangat mirip dengan Bourne. Kisahnya sendiri adalah fiksi, diadaptasi oleh penulis naskah Mystyc River, Brian Helgeland, terinspirasi dari buku non-fiksi Imperial Life in the Emerald City: Inside Iraq’s Green Zone yang menceritakan salah satu konspirasi paling menarik dalam perang Irak. Chief Roy Miller (Damon) memimpin unit yang memburu lokasi-lokasi WMD yang hasilnya selalu kosong. Ia mulai mencurigai intel mereka yang hanya bisa diakses oleh seorang agen intelijen amerika serikat, Poundstone (Greg Kinnear). Dengan bantuan agen CIA Martin Brown (Brendan Gleeson), reporter Lawrie Dayne (Amy Ryan) dan seorang penduduk lokal, Freddy (Khalid Abdalla), Miller mencoba untuk langsung berunding dengan Jenderal Al Rawi (Igal Naor), salah satu orang kepercayaan Saddam, mengenai keberadaan WMD itu. Film perang irak yang ideal? Ya, ini adalah deal terbaik sebuah film yang memilih fokus pada kejadian perang irak itu sendiri untuk saat ini. Cukup mengejutkan ternyata ada yang berani mengangkat kisahnya, konspirasinya-yea, tapi jaman Bush memang sudah berakhir. Ceritanya memang padat. Alurnya cepat. Dan banyak referensi menarik dari dialog-dialognya seperti pada adegan di area penggalian tanah. Green Zone adalah salah satu contoh aksi thriller yang geram dengan cerita yang bagus. (16 maret 2010)
